SELAMAT DATANG DI BLOGNYA NU KRECEK KEC. BADAS KAB. KEDIRI, JAWA TIMUR

JELANG MUKTAMAR KE-33 NU Aswaja Center Ciptakan Literatur Digital Warga NU

sumber: NU Online
Beragam cara dilakukan oleh warga NU dalam menyambut Muktamar ke-33 NU yang akan berlangsung pada tanggal 1-5 Agustus nanti di Jombang. Seperti yang dilakukan oleh Zidni Nafi’ Akbar, salah seorang tim IT Aswaja NU Center Jatim ini. Dirinya berhasil membuat sebuah aplikasi yang berisikan kumpulan-kumpulan kitab yang ia namakan LIDI NU, Literatur Digital Warga NU.

Dirinya saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya) jurusan Fisika 2013. Menurutnya tujuan dibuatnya aplikasi tersebut adalah untuk lebih mengkoordinir materi yang relevan dan tradisi NU.

“Agar mengkoordinir apa saja dasar amalan-amalan yang ada di jam’iyyah NU,” jelas mahasiswa asal Kediri ini.

“Waktu pembuatan aplikasi ini sekitar satu hingga dua bulan. Yang membuat prosesnya agak lama adalah proses pengumpulan materi yang akan dimuat dalam aplikasi ini,” jelasnya. Ke semua materi yang dimuat di dalam aplikasi berasal dari berbagai web maupun perorangan yang memilki artikel maupun file yang berasal dari kiai maupun pengajian Nahdliyin.

Aplikasi ini nantinya memiliki sasaran pemuda yang berkecimpung di dunia maya. Selain itu, harapan ke depannya adalah semua elemen masyarakat jika ingin mencari referensi perihal permasalahan agama bisa mencari rujukan dari sini.

“Jadi nantinya semua elemen masyarakat mencari referensi dari sini untuk berbagai permasalahan agama,” tambahnya. Aplikasi ini masih bisa berkembang lagi, dukungan dari berbagai elemen masyarakat khususnya Nahdliyin sangatlah diperlukan untuk aplikasi yang lebih baik lagi. Bagi yang ingin memperolehnya (mendownloadnya), bisa mengakes link berikut: http://lidi.aswajanucenterjatim.com/. (Hanan)Oleh: Ahmad Hanan

Penulis merupakan Mahasantri PBSB ITS jurusan Teknik Informatika ITS asal Rembang Jawa Tengah angkatan 2014 yang juga merupakan salah satu anggota CSSMoRA ITS, staff Departemen Hublu. Red: Mukafi Niam

Rapat Rahasia NU Putuskan Sukarno-Hatta Calon Pemimpin Indonesia

KH Saifuddin Zuhri -paling kanan-menyambut kedatangan Ir Soekarno pada pembukaan Muktamar ke-23 NU di Solo 25/12/1962. (dok. madrowi)

Oleh: Rijal Mumazziq Z
Beberapa keputusan muktamar kali ini merupakan penegasan keputusan muktamar sebelumnya, di Magelang. Muncul nama dwitunggal Soekarno-Hatta sebagai calon pemimpin nasional.
Muktamar yang dihelat di kota kelahiran ini dihadiri oleh 1.232 orang yang terdiri dari 474 ulama, 276 non-ulama, 78 pemuda Ansor, 19 tokoh Muslimat, 17 orang konsul seluruh Indonesia, 17 tokoh puncak HBNO dan 351 anggota HCC (panitia muktamar). Ini belum terhitung jumlah pengunjung yang tak terdaftar sebagai peserta resmi. Lokasi muktamar yang tidak jauh dari stasiun kereta api dan kurang lebih 3 kilometer dari kawasan makam Sunan Ampel juga membuat suasana meriah.
Berbarengan dengan Muktamar NU ini, Barisan Ansor NU (BANU) melangsungkan mubarozah (perkemahan jambore) di tanah Japang, Kedungdoro. Menjelang pembukaan muktamar, seluruh barisan besar BANU mengadakan taptu (pawai obor) keliling kota di bawah pimpinan Imam Sukarlan Suryoseputro, Inspektur Umum Kwartir Besar Barisan Ansor NU. Pawai obor yang disambung dengan atraksi pencak silat tersebut menarik perhatian khalayak Surabaya. Di kota kelahirannya ini, NU berusaha menampilkan diri sebagai organisasi yang layak diikuti.
Setelah bersidang beberapa hari, muktamar ke-15 ini menghasilkan keputusan sebagai berikut:
  1. Memilih kembali Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai Katib Aam dan KH. Mahfudz Siddiq sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU.
  2. Memberi dukungan atas terpilihnya KH. A. Wahid Hasyim menjadi Ketua Dewan MIAI, dan siap memberi bantuan kepada yang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya, baik yang bersifat nasional maupun internasional.
  3. Menyetujui rencana program yang telah disusun oleh Ketua HBNO Bagian Ma’arif, KH. A. Wahid Hasyim.
  4. Menyerahkan rencana reglemen (peraturan) pertanian NU kepada HBNO.
  5. Mengesahkan reglemen Barisan Ansor NU (termasuk pakaian seragamnya, lagu resmi mars “al-iqdam” dan segala atribut Barisan Ansor NU). Sidang Komite Khusus Syuriah telah mengambil keputusan tentang pemakaian terompet dan genderang Barisan Ansor NU dengan perbandingan: jawaz (35 suara), haram (5 suara), dan abstain (4 suara). Keputusan Sidang Komite Khusus Syuriah tersebut dibenarkan oleh sidang lengkap Syuriah muktamar.
  6. Memberi kuasa kepada HBNO untuk merancang rencana penggunaan uang kas masjid yang dikuasai oleh kantor-kantor kepenghuluan untuk kemaslahatan kaum muslimin.
  7. Mendesak pemerintah untuk mengabulkan beberapa mosi permohonan yang menjadi keputusan Muktamar NU ke-14 di Magelang yang belum ada reaksi dari pemerintah.
Poin ketujuh adalah di antara keputusan penting yang berkaitan dengan tuntutan NU yang disepakati pada muktamar di Magelang satu tahun sebelumnya. Namun keputusan yang paling penting saat Muktamar NU kelimabelas adalah mengenai sikap NU terhadap calon pemimpin nasional.
Pada muktamar ini NU telah yakin bahwa kemerdekaan akan segera tercapai. Sehingga perlu mengadakan rapat tertutup guna membicarakan siapa calon yang pantas menjadi presiden pertama Indonesia. Menurut KH. Abdul Halim dalam “Sejarah Perjuangan KH. Abdul Wahab”, rapat rahasia ini hanya diperuntukkan 11 orang tokoh NU yang dipimpin oleh KH. Mahfudz Siddiq dengan mengetengahkan dua nama: Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta. Rapat berakhir dengan kesepakatan: Ir. Soekarno calon presiden pertama, sedangkan Muhammad Hatta (ketika itu hanya mendapatkan dukungan satu suara), sebagai wakilnya.
Jelaslah, sejak awal NU mendorong tercapainya kemerdekaan Indonesia. Manakala senjakala kekuasaan Belanda di Indonesia nyaris runtuh, NU telah menggodok draft siapa calon pemimpin yang layak menjadi orang nomor satu di sebuah negara yang bakal diproklamirkan kelak. Alih-alih menyodorkan kadernya sendiri sebagai calon pemimpin, NU secara obyektif melihat bahwa kedua orang tersebut lah yang layak dan pas menjadi duet yang memimpin sebuah negara yang bakal lahir. Prediksi hasil rapat rahasia tim 11 ini menjadi kenyataan pada tahun 1945 manakala Bung Karno dan Bung Hatta menjadi dwitunggal Indonesia.
Wallahu A’lam Bisshawab.                            (Sumber Web Panitia Muktamar 33)

Terbesar, Ratusan Stan Meriahkan Muktamar NU Expo

Bupati didampingi Wakil Bupati Jombang sedang melepaskan balon pembukaan Muktamar NU Expo di Stadion Jombang, Sabtu, 25/7/2015. (dok. MNU-Anam)JOMBANG – Baru pada Muktamar ke-33 NU di Jombang ini, panitia menyediakan stan pameran begitu banyak. Tidak tanggung-tanggung, ada ratusan stan yang telah terisi dan tersebar di berbagai lokasi.
H Misbachul Munir selaku Koordinator Muktamar NU Expo tidak menyangka kalau antusias masyarakat demikian tinggi dalam mengisi stan yang disediakan panitia. “Di stadion ini ada 309 stan dan semuanya telah dipesan,” katanya saat memberikan sambutan pada pembukaan Muktamar NU Expo, Sabtu (25/7/2015).
Demikian juga ada puluhan stan di Alun-alun Jombang. “Ini belum termasuk puluhan stan yang ada di 4 pesantren tuan rumah muktamar,” katanya.
“Jombang benar-benar memiliki potensi ekonomi yang luar biasa,” katanya disambut aplaus hadirin. Dalam pandangan Wakil Sekretaris PWNU Jatim tersebut, sudah saatnya potensi ekonomi yang demikian tinggi bisa dioptimalkan demi kesejahteraan masyarakat, lanjutnya.
Hal yang sama disampaikan H Nyono Suharli Wihandoko. Bupati Jombang ini sangat gembira atas kepercayaan pelaku usaha selama muktamar berlangsung. “kami berharap masyarakat Jombang khususnya dan warga NU dapat memanfaatkan momentum muktamar ini sebagai sarana pameran sekaligus meningkatkan taraf ekonomi,” katanya saat memberikan sambutan.
Apalagi dalam waktu dekat, bangsa Indonesia akan menghadapi tantangan globalisasi ekonomi yang lintas kawasan. “Bisa jadi muktamar di Jombang ini hanya sekali ini terjadi,” katanya di hadapan hadirin. Karenanya, segala potensi yang bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat harus dilakukan.
Orang pertama di Jombang ini sangat berharap, selama muktamar berlangsung juga mampu meningkatkan penghasilan warga. “Semoga usahanya laku keras,” ungkapnya. Dan pada saat yang sama, Pemerintah Daerah Jombang akan terus berbenah untuk bisa memperbaharui pelayanan, lanjutnya.
Usai dibuka secara resmi, Bupati dan Wakil Bupati Jombang melepas rangkaian balon dan menggunting pita pintu masuk arena Muktamar NU Expo. Dengan diiring panitia dan unsur forum pimpinan daerah, rombongan berkesempatan melihat dari dekat stan yang tersedia di area stadion tersebut. (sumber panitia muktamar)

480 Penghafal Al-Qur’an Gelar Semaan di 160 Majelis

Kegiatan semaan al-Qur'an bil ghaib dalam rangkaian Pra Muktamar ke-33 NU. (dok. Pan-MNU)Jombang – Demi kelancaran perhelatan Muktamar ke-33 NU di Jombang awal Agustus mendatang, Pengurus Cabang NU Jombang menggelar khataman al-Quran bil ghaib  di 160 majelis.  Kegiatan dimulai hari ini dan akan berlangsung hingga lusa. Ada 480 penghafal al-Qur’an yang bergabung.
“Kegiatan khataman Al-Qur,an dimulai hari ini, dan pembukaan dilakukan di Masjid MAN Tambakberas,” kata Ahsan Sutari saat dihubungi media ini, Sabtu (25/7/2015). “Kegiatan sebagai bagian dalam rangka  sukses Muktamar ke-33 NU,” lanjut koordinator kegiatan semaan ini.
Ia menandaskan ada 480 penghafal Al-Quran (baik laki-laki dan perempuan yang ikut dalam kegiatan ini. Mereka dibagi dalam 160 majelis. Kegiatan khatmil Qur’an dilaksanakan mulai 25 hingga 27 Juli. “Setap majelis diisi oleh 3 penghafal Al-Quran di mushalla dan masjid,” imbuh Sutari yang juga Ketua PC Lembaga Takmir Masjid NU Jombang.
Bapak Sutari, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa kegiatan tidak hanya dilakukan di masjid dan mushalla yang berada di wilayah kota saja. Juga merata di sejumlah MWC NU yang ada di Jombang..”Jadi setiap pengurus MWC NU minimal menggelar 7 majelis, selama tiga hari ini,” pungkasnya. (s@if)

MUKTAMAR NU KE-33 DI JOMBANG



NU dan Muhammadiyah itu Sama

Mbah Sya’roni: NU dan Muhammadiyah itu Sama

Mbah Sya’roni: NU dan Muhammadiyah itu Sama

Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren

Subang, NU Online

Kiai


Apa yang Membuat Seseorang Disebut Kiai ?

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Usman Ismail berpendapat, kitab kuning dan kiai adalah dua hal yang bersifat integral. Penguasaan terhadap kitab kuning membuat seseorang sah disebut kiai meski ia tak mendirikan lembaga pesantren.

Pandangan ini ia lontarkan saat menjadi narasumber bedah buku “Kiai Tanpa Pesantren” karya Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama Prof Abdurrahman Mas’ud di Jakarta, Selasa (19/11).

Buku tersebut mengulas biografi 10 kiai kharismatik di Kudus, Jawa Tengah, yang secara kelembagaan tidak mendirikan pesantren, seperti KH R Asnawi (salah satu pendiri NU), KH Turaichan Adjhuri as-Syarofi (ahli Ilmu Falak), dan KH Sya’roni Ahmadi al-hafidz (pakar Qiraat Sab’ah).

Menurut Asep, kitab kuning merupakan khazanah keilmuan yang memiiki ketersambungan silsilah kepada ulama-ulama terdahulu. “Kenapa saya bisa merasakan suasana pesantren di Kudus padahal saya orang Sukabumi? Karena kita kitab kuning. Jadi kitab kuning itu bukan tradisi kecil, tapi tradisi besar yang ‘menyamakan’ kiai di daerah satu dengan daerah lainnya,” ujarrya.

Faktor identifikasi kiai dengan pesantren, kata Asep, antara lain karena mengacu salah satu fungsi kiai yang ingin mengader murid-muridnya untuk menjadi para ahli agama di masa mendatang; dan tempat kaderisasi tersebut tak lain adalah pesantren.

Dia menambahkan, kiai terkadang merasa cukup mengajar dan berjuang untuk masyarakat secara luas tanpa mengharuskan dirinya mendirikan pesantren. Pilihan ini, katanya, adalah bagian dari kearifan masing-masing kiai.

Kasubdit Pesantren Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Imam Syafi’i, pada kesempatan yang sama, mengatakan, meskipun tak memiliki lembaga pesantren, hampir semua kiai memiliki hubungan yang dekat dengan pesantren.

“Minimal gurunya adalah orang pesantren atau ia pernah belajar di pesantren,” katanya.

Imam menilai, kriteria penyematan gelar “kiai” yang berkembang di masyarakat belakangan ini kian longgar. Keunggulan ilmu dan kematangan rohani seringkali tak menjadi ukuran.

"Ada kiai rekomendasi/pengakuan masyarakat, seperti Kiai Maemoen Zubair; ada kiai rekomendasi pemerintah, yakni MUI; ada kiai rekomendasi media massa; ada kiai dukungan dunia maya; ada kiai artis," ujarnya mengutip pernyataan KH A Mustofa Bisri. (Mahbib Khoiron)
Jakarta, NU Online 20/11/2013