SELAMAT DATANG DI BLOGNYA NU KRECEK KEC. BADAS KAB. KEDIRI, JAWA TIMUR

IDUL FITRI 1434 H.

SEGENAP PENGURUS RANTING NAHDLATUL ULAMA'  DESA KRECEK KEC.BADAS KAB. KEDIRI 
Menyampaikan
 Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H.

TAKBIRAN BERJAMAAH BUKAN BID'AH



Akita-Pawai-takbir
Takbir di Malam Hari Raya
Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad yang amat perlu untuk di lestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syi’ar Islam.Para ulama dari masa kemasa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir baik setelah sholat (takbir muqoyyad) atau di luar sholat (takbir mursal).
Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan ummat dari masa kemasa.
Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).
Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.
Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971 yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata :
كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري
Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya, begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.
Di sebutkan dalam hadits tersebut فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan takbir terjadi secara berjamaah atau bersamaan.
Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir” يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاس.

Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sayyidina Umar bin Khottob dalam bab takbir saat di mina 
وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا
Artinya : “Sahabat umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah mina bergema dengan suara takbir” .
Ibnu Hajar Al Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) mengomentari kalimat : حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًاdengan
"أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ."
Bergoncang dan bergerak, bergetar yaitu menunjukan kuatnya suara yang bersama-sama .
Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam kitab Al’um 1/264 :
أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ "
Artinya : “Aku senang(maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau rmukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada agar mereka menampakkan(syi’ar) takbir”.
Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Bahkan yang ada adalah justru sebaliknya anjuran dan contoh takbir bersama-sama dari ulama terdahulu .

Kesimpulan tentang takbir bersama-sama:
Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat
Anjuran dari Imam Syafi’i ra mewakili ulama salaf .
Tidak pernah ada larangan takbir bersam-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri.Yang ada adalah anjuran takbir dan dzikir secara mutlaq baik secara sendirian atau berjamaah.
Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.
 
Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah
Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 madzhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam nawawi dalam kitab majmu’ berkata sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab. Artinya kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan sholat, berdzikir, dan membaca Al-Quran khususnya bertakbir. Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

I'TIKAF DIBULAN ROMADLON

ROSULULLOOH saw. telah mencontohkan tentang ibadah yang satu ini sebagaimana hadits nabi SAW.
Sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw.
Hadits Aisyah ra. menerangkan:

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 
Dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, meneuturkan: “sesungguhnya Nabi s.a.w, melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian isteri-isterinya mengerjakan I’tikaf sepeniggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006

I’tikaf secara bahasa memiliki arti menetapi suatu kebaikan atau kejelekan, dan secara ilmu fiqh berdiam diri dalam masjid dengan ketentuan-ketentuan tertentu, diantara ketentuan tersebut adalah; pertama orang yang melakukan I’tikaf adalah orang islam, maka i’tikaf yang dilakukan oleh orang selain beragam islam itu hukumnya tidak sah (batal). Kedua, berakal sehat, Apabila mu’takif itu gila atau terserang penyakit epilepsy maka batal (tidak sah) I’tikafnya. Ketiga orang jyang beri’tikaf (mu’takif) harus dalam keadaan suci dari haid dan nifas bagi seorang perempuan, dan suci dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan diwajibkannya mandi junnub.

Adapun rukun i’tikaf yang harus dipenuhi adalah; pertama Niat untuk untuk berdiam diri di dalam masjid, dan bagi mereka yang bernadzar untuk I’tikaf, maka diwajibkan baginya untuk mengucapkan kata fardu di dalam niat I’tikafnya. Dan kedua berdiam diri dalam masjid dalam rentang waktu lebih dari lamanya thumaninah dalam sholat.

Selain syarat dan rukun yang harus dijaga, hendaknya  bagi mereka yang beri’tikaf memperhatikan beberapa pantangan yang dapat membatalkan I’tikaf. Diantaranya bersetubuh dengan istri

وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِى الْمَسْجِدِوَتِلْكَ حُدُوْدُاللهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ 
…dan janganlah kalian campuri mereka (isterimu) itu, sedang kalian sedang dalam keadaan I’tikaf di ,asjid, itulah ketentuan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah, 2:187)

Kedua, keluar dari masjid tanpa udzur atau halangan yang dibolehkan syariat. Tetapi bila keluar dari masjid karena ada udzur, misalnya buang hajat atau air kecil dan yang serupa dengan itu, tidak membatalkan I’tikaf. Diperbolehkan keluar dari masjid karena mengantarkan keluarga ke rumah, atau untuk mengambil makanan di luar masjid, bila tidak ada yang mengantarkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah r.a:

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي اِلَيَّ رَاْسَهُ فَاُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ اِلَّا لِحَاجَةِ الْاِنْسَانِ
Dari Aisyah r.a, menuturkan, Nabi s.a.w, apabila beri’tikaf, Beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku sisir rambutnya, dan Beliau tidak masuk rumah kecuali untuk keperluan hajat manusia (buang air besar atau buang air kecil)”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1889 dan Muslim: 445).
Mengenai waktu I’tikaf bisa dilakukan di setiap waktu, tetapi waktu yang sangat dianjurkan untuk beri’tikaf adalah pada malam sepuluh terakir dari bulan Ramadlon. Dengan alasan sebagai usaha untuk mencari dan menemukan malam lailatul qadar yang memiliki keistimewaan 1:1000 keistimewaan bulan selain bulan Ramadlon, oleh karena itu I’tikaf pada saat-saat itu sangat dianjurkan. 

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

Dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, meneuturkan: “sesungguhnya Nabi s.a.w, melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian isteri-isterinya mengerjakan I’tikaf sepeniggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006)

MAN KRECEK PARE ( MAN KPK )

MAN KPK, man krecek pare kediri, zidni nafi' akbar, admin blognya pakar ilmu Sesuai dengan judul artikel diatas yaitu mengulas tentang MAN KRECEK PARE, Kelebihan dan Kekurangannya,
Siapa itu MAN KRECEK ?  
MAN adalah kependekan dari MADRASAH ALIYAH NEGERI, yaitu jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan sekolah menengah atas, yang pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Pendidikan madrasah aliyah ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. 

Menggeleng-gelengkan Kepala ketika Berdzikir


Lazim kita melihat dalam berbagai kesempatan baik dalam tahlil, wirid, ataupun acara lain orang-orang menggeleng-gelengkan kepala ketika berdzikir. Ternyata setelah dipertanyakan asal-usul gerakan tersebut, jarang sekali yang dapat menerangkan. Jangan-jangan hal itu merupakan pengaruh tradisi Yahudi?
Atau memang murni ajaran Rasulullah SAW. mengingat belum ditemukan hadits yang menerangkan hal itu. Hanya saja sebagian masyarakat mengakui bahwa gerakan itu mempermudah konsentrasi dalam berdzikir. Tentunya hal ini sangat bernilai positif. Akan tetapi bila dipertanyakan apakah gerakan itu sunnah, atau makruh atau apapun hukumnya?  maka hal yang positif tidak selamanya sejalan dengan hukum syariat.
Namun demikian, guna mendapatkan informasi mengenai hukum menggeleng-gelengkan kepala dalam berdzikir, patut kiranya menelusuri terlebih dahulu apa itu dzikir.
Dalam al-Baqarah 152 Allah memerintahkan kepada makhluqnya untuk senantiasa mengingat-Nya.
فاذكرونى اذكركم...
“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu”
artinya dzikir adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk mengingat Allah swt sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konteks “ingat kepada Allah” ini umat Islam tidak pernah lepas dari tiga hal: doa, wirid dan zikir. Doa adalah permintaan atau permohonan sesuatu kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Wirid merupakan bacaan tertentu untuk mendapatkan 'aliran' berkah dari Allah. Sedangkan zikir adalah segala gerak-gerik dan aktivitas yang berobsesi pada kedekatan atau taqarrub kepada Allah. Me-lafadz-kan atau melafalkan kata-kata tertentu yang mengandung unsur ingat kepada Allah, juga termasuk zikir. Zikir sangat penting karena dalam pandangan kesufian ia merupakan langkah pertama cinta kepada Allah.
Ada dua macam zikir atau ingat kepada Allah: pertama, dzikr bil-lisan, yaitu mengucapkan sejumlah lafaz yang dapat menggerakkan hati untuk mengingat Allah. Zikir dengan pola ini dapat dilakukan pada saat-saat tertentu dan tempat tertentu pula. Misalnya, berzikir di mesjid sehabis salat wajib. Kedua, dzikr bil-qalb, yaitu keterjagaan hati untuk selalu mengingat Allah. Zikir ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, tidak ada batasan ruang dan waktu. Pelaku sufi lebih mengistimewakan dzikr bil-qalb ini karena implikasinya yang hakiki. Meskipun demikian, sang dzakir (seseorang yang berzikir) dapat mencapai kesempurnaan apabila ia mampu berzikir dengan lisan sekaligus dengan hatinya.
Dengan demikian, orientasi zikir adalah pada penataan hati atau qalb. Qalb memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena baik dan buruknya aktivitas manusia sangat bergantung kepada kondisi qalb.
Oleh karena itulah semulia-mulia makhluq adalah mereka yang senantiasa berdzikir mengingat Sang Pencipta. Dalam Ali Imran 191 diterangkan bahwa:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ayat di atas juga dapat digunakan sebagai petunjuk bahwasannya berdzikir kepada Allah swt sangat dianjurkan dalam berbagai kesempatan dan kondisi. Tidak hanya ketika khusyu’ berdiam diri (tuma’ninah) tetapi juga ketika beraktifitas, qiyaman wa qu’udan baik berdiri maupun duduk, bahkan juga ketika berbaring wa a’la junubihim. Apalagi hanya sekedar menggeleng-gelengkan kepala, selagi hal itu memiliki pengaruh yang positif maka hukumnya boleh-boleh saja. bahkan disunnahkan. Hal inilah yang diinformasikan oleh kitab Fatawal Khalili ala Madzhabil Imamis Syafi’i:
... علمت أن الحركة فى الذكر والقرأة ليست محرمة ولا مكروهة بل هي مطلوبة فى جملة أحوال الذاكرين من قيام وقعود وجنوب وحركة وسكون وسفر وحضر وغني وفقر ...
… saya jadi mengerti bahwasannya menggerakkan (anggauta badan) ketika berdzikir maupun membaca (al-qur’an)  bukanlah sesuatu yang haram ataupun makruh. Akan tetapi sangat dianjurkan dalam semua kondisi baik ketika berdiri, duduk, berbaring, bergerak, diam, dalam perjalanan, di rumah, ketika kaya, ataupun ketika faqir…
Dengan demikian teringat kita dengan tarian sufi yang dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi. Bagaimana dzikir juga diapresiasikan dalam seni tari.
Redaktur: Ulil Hadrawy
NU PUSAT

Shalawat NU Bergema di Bumi Atturmusi

Pacitan, NU Online
Tahun 26 Lahire NU ...
Ijo Ijo Benderane NU ...
Gambar Jagad Simbule NU ...
Bintang Songo Lambange NU ...
Syuriyah Ulama'e NU ...
Tanfidziyah Pelaksana NU ...
GP Ansor Pemuda NU ...
Fatayat Pemudi NU ...

Demikian Lantunan Shalawat NU yang dibawakan oleh Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf dari Kota Surakarta pada acara Keluarga Pondok Tremas Bersholawat, Selasa (26/3) malam di halaman Masjid Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan Jawa Timur.

Malam itu, komplek Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan atau yang dikenal dengan sebutan “Atturmusi” dibanjiri ribuan Muslimin dari seantaro Pacitan dan sekitarnya.

Ribuan Syecher mania, sebutan untuk simpatisan Habib Syech, memadati halaman masjid, serambi masjid, bahkan ribuan jamaah memenuhi jalan sepanjang komplek Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.

Turut hadir dalam acara tersebut para alim ulama dan habaib, diantarnya KH Fuad, Habib Dimyathi, KH Luqman Harist Dimyathi, Gus Karim (Solo) KH Zaenal Abidin (Trengalek), KH Umar Tumbu dan Kapolres Pacitan. Mereka ikut larut dalam bacaan sholawat dan qasidah yang didendangkan oleh Habib Syech.

Habib Syech bersama Jamiyyah Ababul Musthofa Madiun menyuguhkan sedikitnya 15 Sholawat. Tak lupa, Sholawat NU dikumandangkan di pesantren yang didirkan oleh KH Abdul Manan Pada tahun 1830 M tersebut.

Sholawat NU yang isinya terdiri dari syi’iran tentang NU dan amaliahnya ini termasuk salah satu lagu yang sangat saat ini sering dibawakan oleh Habib Syech dalam setiap gelaran sholawatnya. Dengan tujuan, panji panji NU semakin menyebar di seantaro polosok negeri.

Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Zaenal Faizin


Investigasi Terhadap Afrokhi

Investigasi Terhadap Afrokhi

Afrokhi Abdul Ghoni dengan buku batilnya yg berjudul “Buku Putih Kyai NU” telah   menimbulkan keresahan di kalangan umat Islam. Dengan beraninya ia mengatasnamakan sebagai kyai NU padahal ia mengusung konsep-konsep sesat wahhabi yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah Wal-Jama`ah. Seharusnya ia tidak mengatasnamakan NU, karena konsep yang di bawanya berbeda dengan konsep Ahlussunnah Wal Jama`ah yang selama ini diikuti warga NU. Jika penyimpangan ini dibiarkan, maka akan menjadi sebuah bom waktu yang sangat berbahaya bahkan bisa menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam.
Buku Putih Kyai NU , Afrokhi Abdul Ghoni
Dakwahnya pun tidak mengajak orang untuk dekat kepada Allah SWT, tapi justru mengajak untuk mencaci maki sesama umat Islam. Dalam setiap pidatonya, ia dengan gegabahnya menvonis syirik, kafir, bid’ah dan sesat kepada umat Islam selain golongannya. Afrokhi pun juga mengusung aqidah sesat tajsim aqidah khas wahhabi yang dapat menjerumuskan orang ke lembah kekufuran.
Sehingga tak jarang, ceramahnya Afrokhi  ini membuat resah bahkan dapat menyebabkan perpecahan umat, yang tidak menutup kemungkinan bisa memicu konflik horizontal. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Afrokhi ini hanya akan membuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana telah difirmankan Allah SWT dalam surat Al Baqarah, 11-12 :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ .أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ -
Dan bila dikatakan kepada mereka: ”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah: 11-12).
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan akan munculnya pemimpin-pemimpin sesat dan menyesatkan yang berfatwa tanpa ilmu, dalam hadits berikut ini:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.(رواه البخاري: 100/و مسلم: 6971)
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW telah bersabda’: “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari hati hamba-hambanya (ulama), akan tetapi mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga apabila tidak terdapat ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh menjadi pemimpin mereka, lalu orang-orang bodoh itu akan ditanya (dimintai fatwa), kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, maka orang-orang bodoh itu menjadi sesat dan menyesatkan orang lain”. (H.R Bukhari: 100, Muslim: 6971).
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga telah memperingatkan akan kemunculan orang-orang yang berpikiran khwarij seperti Afrokhi ini :
سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه البخاري: 3611 و مسلم: 1066)
“Akan muncul pada akhir zaman, suatu kaum yang umurnya masih muda (yakni sedikit ilmunya), rusak akalnya. Mereka berkata dengan sebaik-baik perkataan manusia (yakni suka membahas masalah agama). Mereka membaca al-Qur`an, namun Al Qur’an tidak melewati kerongkongannya (yakni salah dalam memahami al-Qur`an). Mereka telah terlepas dari agama, bagaikan terlepasnya anak panah dari busurnya. Apabila kalian menemui mereka, bunuhlah mereka, karena terdapat ganjaran bagi yang membunuh mereka di sisi Allah pada hari kiamat nanti.” (HR. Bukhari: 3611, Muslim: 1066)
Apalagi Wahhabi (= pengikut muhammad bin abdul wahhab dari Najd ) aliran sesat yang dikuti oleh Afrokhi , sebuah aliran yang telah didiskualifikasi oleh Rasulullah SAW dan dinilai sebagai generasi pengikut syetan dalam hadits shahih:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا، قَالَ، قَالُوا: وَفِي نَجْدِنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ، قَالَ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا، قَالَ، قَالُوا: وَفِي نَجْدِنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ، قَالَ: هُنَاكَ الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ. رواه البخاري (979) والترمذي (3888) وأحمد (5715)
“Dari Ibn Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.” Mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” Beliau menjawab: “Ya Allah berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.” Mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” Beliau menjawab: “Di Najd itu tempatnya segala kegoncangan dan berbagai macam fitnah. Dan di sana akan lahir tanduk (generasi pengikut)  syetan.” Hadits shahih ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (979), al-Tirmidzi (3888) dan Ahmad (5715).
Atas bebagai pertimbangan di atas itulah maka Team Sarkub memutuskan untuk segera mengadakan penelitian dan penelusuran lebih lanjut terhadap Afrokhi Abdul Ghoni.
Dengan semangat ukhuwah Islamiyah maka pada hari Ahad tgl. 13 Februari 2011 Team Sarkub yang terdiri : KH. Thobari Syadzili, Ust. Dafid Fuadi, Mbah Aqil Fikri, Pengemis Makam, Ka Kanda, Sedot WC & Saifullah (Wartawan Aula) mengadakan kunjungan ke Afrokhi yang bertempat tinggal di Dusun Puthuk Desa Banaran Kec. Kandangan Kab. Kediri Jawa Timur. Maksud dan tujuannya adalah untuk silaturrahim dan tabayun (kalrifikasi).
Sebelum berangkat ke alamat tersebut, team berkumpul di rumah Ust. Dafid Fuadi sejenak untuk istirahat dan shalat Zhuhur, setelah itu team langsung meluncur ke alamat tersebut. Sampai di dusun Puthuk jam 13.00 WIB, karena dusun tersebut berada di pelosok dan penuh liku maka team bertanya kepada warga setempat di mana letak rumah Afrokhi, meskipun warga memberitahu tapi rata-rata ekspresi wajahnya menunjukkan rasa kurang suka. Maklum, sejak Afrokhi menjadi wahhabi ia seringkali melukai perasaan hati warga. Afrokki tidak jarang mencaci maki amaliah warga setempat sehingga lama-kelamaan warga menjauh darinya.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya team sampai di rumah Afrokhi. Rumah tersebut terletak di sebuah gang kecil di dusun tersebut dengan jalan masuk agak curam. Sebuah rumah kecil nan sederhana yang teras depannya ada papan nama yang catnya mulai menua yang bertuliskan “Podok Pesantren dan Madrasah Rohmatulloh” dengan tanpa santri satu orang pun. Rumah tersebut terletak di lokasi pekarangan sempit.
Team turun dari mobil, lalu menghampiri rumah tersebut dan mengucapkan salam. Muncullah seorang pemuda tanggung berjenggot dan bercelana cinkrang berkata : “Mau mencari siapa?”.
Team Sarkub : “Pak Afrokhi ada di rumah ?”
Pemuda tanggung : “O..pak Kyai tidak ada di rumah”.
Team Sarkub : “Pergi ke mana ?”
Pemuda tanggung : “Mungkin Pak Kyai mengantar putranya ke neneknya, paling-paling sebentar, ayo silahkan masuk, coba saya telepon beliau !”.
Team Sarkub masuk ke rumah Afrokhi dan menunggu di ruang tamu sempit. Di ruang tamu tersebut nampak beberapa kitab standar yang jumlahnya tidak banyak dan kitab-kitab terjemahan bahasa Indonesia karya orang-orang wahhabi. Tidak lama kemudian, datanglah pemuda dewasa berjenggot dan berkata : “Maaf, Pak Kyai mungkin pulangnya masih lama.”
Team Sarkub : “Beliau pergi ke mana ?”
Pemuda dewasa : “Kami kurang tahu persis, tapi biasanya beliau seringkali ada acara mendadak. Mungkin kalau hari minggu seperti ini beliau mengisi acara di Batu Malang, kadang-kadang sampai dua tempat”.
Team Sarkub : “Kira-kira pulangnya jam berapa?”.
Pemuda dewasa : “Tidak tentu, biasanya ya lama sampai malam”.
Team Sarkub : “Ya sudah, tidak apa-apa, kami tunggu saja sampai beliau pulang.”
Pemuda dewasa : “Tapi lama lho…pulangnya, mungkin ada pesan untuk beliau?”.
Team Sarkub : “Tidak ada, kami hanya ingin silaturrahim saja, kami tunggu saja sampai beliau pulang. O..ya berapa nomor hp beliau ?”
Pemuda dewasa : “Wah, maaf, kemarin nomor hpnya hilang.” (sambil senyum yang dipaksakan).
Team Sarkub : “O…ya ya.”
Pemuda dewasa : “Maaf, saya tinggal dulu , ya.”
Team Sarkub : “O..ya silahkan”.
Selanjutnya dengan sabarnya Team Sarkub menunggu kedatangan Afrokhi yang tidak tak kunjung tiba. Hampir dua jam Team Sarkub masih berada di ruang tamu rumah Afrokhi, tapi –Alhamdulillah- sudah mendokumentasikan obyek-obyek penting di rumah Afrokhi. Akhirnya Mbah Pengemis Makam ke luar ruangan untuk kebul-kebul sejenak sambil mengamati situasi, lalu diikuti Ust. Dafid Fuadi dan menghampiri seorang remaja berjenggot yang ada di samping kiri rumah Afrokhi. Dafid Fuadi bertanya : “Kira-kira Pak Afrokhi ke mana, ya ?”. Remaja tadi menjawab : “Maaf, saya kurang tahu persis, tadi kayaknya mengantarkan putranya ke Mbahnya, paling-paling tidak lama”.
Team Sarkub sudah mulai tidak enak perasaannya, apalagi jika memperhatikan penjelasan-penjelasan seorang pemuda dewasa tadi sepertinya mengharapkan agar Team Sarkub harus secepatnya pergi dari situ.
Lalu Team Sarkub mencoba mengorek keterangan dari tetangga dekat Afrokhi yang rumahnya berada di sebelah selatan mepet dengan rumah Afrokhi.
Team Sarkub bertanya : “Maaf Pak! biasanya Pak Afrokhi ada di rumah jam berapa saja ?”.
Tetangga menjawab : “Tidak tentu, bapak-bapak ini apa ingin ketemu Pak Afrokhi ?”. Team Sarkub : “Ya, tapi katanya masih keluar”.
Tetangga : “Oo….”.
Team Sarkub : “Biasaya Pak Afrokhi kalau bepergian naik kendaraan apa?”.
Tetangga : “Kalau dekat ya paling2 naik sepeda motor revo atau megapro, tapi kalau jauh biasanya pake mobil merah”.
Team Sarkub semakin tidak enak perasaannya, karena yang pasti sepeda motor dan mobil merah (keluaran tahun lama) yang biasa dipakai Afrokhi itu masih ada semuanya. Belum habis rasa curiga Team Sarkub, tiba-tiba si tetangga nyelethuk : “Tadi saya dengar batuk-batuknya Pak Afrokhi, masa’ gak ada di rumah”.
Lalu Team Sarkub mohon diri dari si tetangga tersebut. Setelah bermusyawarah sebentar Team Sarkub memutuskan untuk segera meninggalkan lokasi, karena semakin banyak kejanggalan dan aroma tidak beres yang semakin menyengat.
Akhirnya Team Sarkub mohon diri dan berpamitan kepada seorang pemuda berjenggot yang ada di samping rumah Afrokhi, bahkan saat itu Team Sarkub mencoba minta nomor telepon rumah Afrokhi pun hanya dijawab : “Maaf, saya kurang tahu nomornya”.
Selanjutnya Team Sarkub pergi meninggalkan lokasi dengan sejuta tanda tanya.
Dalam perjalanan selanjutnya Team Sarkub singgah di sebuah Pon Pes. Darus Salam Sumbersari Kencong Kepung Kediri yang diasuh oleh KH. A. Zainuri Faqih untuk sholat Ashar dan mengorek data lebih lanjut tentang Afrokhi. Pesantren ini dihuni sekitar 1000 santri, jaraknya kurang lebih 6 km dari rumah Afrokhi. Di pesantren inilah Afrokhi pernah belajar agama bahkan sampai tamat. Menurut data-data santri yang ada di pesantren ini, Afrokhi tidak tergolong santri yang pintar, bahkan pelajaran-pelajaran pesantren yang mestinya harus dihafalkan, Afrokhi tidak pernah berhasil menghafalkan.
Dalam penelusuran Team Sarkub ada temuan yang menarik, berdasarkan keterangan dari tokoh-tokoh agama yang berada di sekitar Pare – Kandangan, bahwa beberapa bulan belakangan ini ada sejumlah petugas dari Kepolisian yang berpakaian preman yang terus berusaha mencari informasi tentang Afrokhi dari tokoh-tokoh agama setempat. Dikarenakan pengajian-pengajian Afrokhi di mana-mana mulai menimbulkan keresahan masyarakat, untungnya masyarakat masih menahan diri.
Demikian, laporan Team Sarkub, semoga Allah melindungi kita semua dari segala fitnah, bala’ , petaka di dunia dan akhirat. Amin Allahumma Amin.
oleh Thariqat Sarkubiyah pada 15 Februari 2011 jam 11:58

  • Foto Rumah Afroki
      

 

KONFERENSI MWCNU

Konferensi MWC NU Kec. Badas telah dilaksanakan Pada hari Sabtu dan Ahad tanggal 17-18 Nopember 2012 bertempat di PONPES AL ISHLAH Dusun Banaran Desa Tunglur Kec badas kab Kediri  .Acara Konferensi tersebut secara resmi telah dibuka oleh Bapak K.H. Sulaiman Lubis, MM selaku ketua tanfidziyah PCNU Kab Kediri, sebelumnya juga diawali dengan pengajian umum yang dihadiri oleh muballigh Bapak K.H. Zamroji dari kota Blitar , yang lebih menarik acara ini juga dimeriahkan dengan adanya bazar  yang sangat ramai sekali disepanjang jalan dusun banaran ,tidak ketinggalan USNU MITRA BUANA juga menggelar berbagai macam dagangannya seperti Beras , minyak goreng ,gula dan sebagainya semuanya dijual dengan harga dibawah standar contoh beras IR 64 yang semestinya harga standar adalah Rp.7.600 sampai 7.800,- saat itu hanya dijual dengan harga Rp.6.600,- demikian juga komoditi yang lain sengaja dijual murah pada  saat konferensi " ini semua untuk warga nahdliyin " ujar ketua USNU MITRA BUANA bapak H.Qomari .Selanjutnya pada hari kedua acara Konferensi  dilanjutkan dengan Komisi -Komisi dimulai dari sidang pembahasan tata tertib sampai dengan puncak acara pemilihan Ro'is Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah, alhamdulillah acara demi acara telah berjalan lancar dengan penuh kidmah para peserta konferensi yang hadir dari berbagai dusun dan desa sekecamatan badas yang mewakili Pengurus anak Ranting masing masing 2 orang dan mewakili pengurus Ranting masing masing 4 orang semua dengan antosiasme yang tinggi dengan menghasilkan keputusan keputusan dan program - program yng akan dilaksanakan untuk lima tahun kedepan . sebagai puncak acara adalah pemilihan Ro'is Syuriyah dan Ketua tanfidziyah acara ini sangat haru dan gembira sesekali hadirin peserta konferensi bersorak sorai terutama saat pemilihan Rois syuriyah kerena pada saat penjaringan muncul calon yang sangat banyak sekali sehingga pemilihan sempat diulang beberapa kali hingga akhirnya mengerucut menjadi dua kandidat calon yakni K.H. Zaini Chudlori dari Ponpes Darul falah balongsari Dan K. Yunus Mubari dari Krecek , Sejak dari awal tahapan pemilihan baik pemilihan Ro'is Syuriyah Maupun pemilihan Ketua Tanfidziyah dilaksanakan secara demokratis dengan azas LUBERJURDIL   hingga sampai pada akhirnya telah terpilih K.Yunus Mubari  sebagai Rois Syuriyah dan Bapak Khoirul Basyar, S.Pd sebagai ketua Tanfidziyah MWC NU Kec.Badas Masa Khidmat 2012 sampai dengan 2017 .